CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sunday, September 13, 2015

PIDATO

Hai! Selamat datang kembali blog readers tercinta!:) Tempo hari, saya meng-upload tugas sekolah saya, yaitu puisi dan majas. Tepatnya tugas pelajaran bahasa indonesia. Dan kali ini, saya juga akan memberitahu kalian salah satu tugas terbaru saya yang Insya Allah bisa menambah wawasan saya dan tentunya para pembaca sekalian hehe:D. 
PIDATO

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan orasi-orasi dan pernyataan tentang suatu hal/peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan.

Fungsi pidato ini adalah :
  • Mempermudah komunikasi antar atasan dan bawahan.
  • Mempermudah komunikasi antar sesama anggota organisasi.
  • Menciptakan suatu keadaan yang kondusif dimana hanya perlu 1 orang saja yang melakukan orasi/pidato tersebut.
  • mempermudah komunikasi.


Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karier yang baik. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya. Dalam berpidato, penampilan, gaya bahasa, dan ekspresi kita hendaknya diperhatikan serta kita harus percaya diri menyampaikan isi dari pidato kita, agar orang yang melihat pidato kita pun tertarik dan terpengaruh oleh pidato yang kita sampaikan.

Nah, berikut ini adalah cuplikan contoh pidato saya di sekolah.

PERBUATAN ASUSILA


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita keberkahan berupa kesehatan, umur dan waktu, hingga kita dapat berkumpul di ruangan yang Insya Allah berkah ini. Sholawat serta salam kita panjatkan kepada Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah memperjuangkan agama kita tercinta.

Pada hari ini, saya akan berpidato kepada anda semua tentang perbuatan asusila yang telah terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Seperti kalian tahu, perbuatan asusila adalah perbuatan yang  sangatlah buruk dan tidak manusiawi. Mengapa? Karena, perbuatan asusila dapat memberikan dampak yang sangat buruk bagi kita semua, seperti merusak moral, sikap maupun fikiran dan jiwa raga kita. Seperti yang kita tahu, di negeri kita tercinta ini, asusila adalah hal yang bisa dikatakan lumayan sering terjadi. Dan paling sering terjadi kepada anak remaja dan orang dewasa. Faktor-faktor dari perbuatan ini adalah perbuatan yang sederhana namun berdampak besar. Seperti, pergi sendirian ke tempat yang sepi, memakai baju yang tidak senonoh, dan yang paling seringadalah karena perbuatan kita sendiri. Yaitu, karena kita sendiri yang memberi si 'orang jahat' kesempatan untuk melakukan tindakan-tindakan jahat mereka.

Maka dari itu, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah perbuatan asusila sebagai warga Negara Indonesia yang taat dan tangguh?

Kita dapat mencegah, menangani dan menghindarinya dengan cara menjaga diri kita baik-baik seperti tidak mengikuti orang yang tidak kita kenali, tidak mencari perhatian didepan umum, tidak memakai baju yang tidak senonoh, dan masih banyak lagi. Selain itu, kita juga sebaiknya pergaulan bebas apalagi yang berlebihan yang bisa menjerumuskan kita ke hal yang buruk. Karena perbuatan - perbuatan buruk ini, bisa kita cegah dengan melakukan aktifitas poistif seperti mengikuti kegiatan sekolah atau organisasi yang bisa menyibukkan kita dengan kegiatan positifnya. Atau mungkin mengikuti komunitas-komunitas yang bersifat masyarakat seperti komunitas bersepeda, komunitas charity atau sebagainya. Dan selaini tu, kita harus bisa menjaga diri baik-baik dan melindungi sesama. Karena perbuatan jahat itu hanya bisa masuk ketika kita membuka gerbang kejahatan itu sendiri.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan, Sekian dari saya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sunday, May 10, 2015

PUISI & MAJAS


1.      B.INDO : PUISI

A.      PENGERTIAN
Puisi (dari bahasa Yunani kuno = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Puisi adalah ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya yang dirangkai menjadi suatu bentuk tulisan yang mengandung makna. Dan puisi juga bisa diartikan sebagai sebuah imajinasi kata yang didapat dari sebuah pengalaman atau dari sebuah gagasan, dan di susun menggunakan pilihan kata atau bahasa yang berirama dan mengutamakan kualitas estetikanya.
B.       CIRI-CIRI
Ciri-ciri Puisi Lama:
·         Pengarangnya tidak diketahui
·         Merupakan kesusastraan lisan
·         Terikat jumlah baris, rima, dan irama
·         Gaya bahasa yang statis (tetap) dan juga klise
·         Isi dari puisi tentang fantastis dan istanasentris
Ciri-ciri Puisi Baru:
·         Pengarangnya diketahui
·         Berkembang secara lisan dan tertulis
·         Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama
·         Gaya bahasa yang dinamis (berubah-ubah)
·         Isinya tentang kehidupan pada umumnya

C.       UNSUR-UNSUR
Struktur fisik puisi terdiri dari:
  • Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
  • Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
  • Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
  • Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
  • Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas.
  • Rima/Irama adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi.
Struktur batin puisi
  • Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
  • Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
  • Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
  • Amanat/tujuan/maksud (intention); yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca
D.      JENIS

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :

  • Jumlah kata dalam 1 baris
  • Jumlah baris dalam 1 bait
  • Persajakan (rima)
  • Banyak suku kata tiap baris
  • Irama
Ciri puisi lama:
  • Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
  • Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
  • Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis-jenis puisi lama
  • Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
  • Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
  • Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
  • Seloka adalah pantun berkait.
  • Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
  • Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
  • Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri Puisi Baru:
  • Bentuknya rapi, simetris;
  • Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
  • Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
  • Sebagian besar puisi empat seuntai;
  • Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
  • Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
Jenis-jenis puisi baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
  • Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.
  • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
  • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
  • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
  • Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.
  • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
  • Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim, dsb.).
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
  • Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
  • Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).
  • Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
  • Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
  • Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).
  • Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
  • Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain atau puisi delapan seuntai).
  • Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris.

Puisi kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman. Selain itu, puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri.

Puisi kontemporer dibedakan menjadi 3 yaitu :
  • Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Calzoum Bachri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer. Ciri-ciri mantra adalah:
1.       Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu
2.       Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri
3.       Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak pada perintah.
  • Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud ialah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi ini muncul pertama kali dalam majalah Aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya yaitu Remy Silado, lembar tersebut diberi nama "Puisi Mbeling". Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main. Ciri-ciri puisi mbeling adalah:
รจ  Mengutamakan unsur kelakar; pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang disembunyikan (tersirat).

·         Puisi konkret adalah puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu. Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyairnya.


2.      B.INDO : GAYA BAHASA (MAJAS)
A.      PENGERTIAN
Definis Majas;Majas adalah gaya bahasa dalam tulisan yang dipakai yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran si pengarang. Majas juga untuk memperoleh efek-efek; sebuah kesan imajinatif bagi pendengarnya. Seorang penulis sastra juga kadang terkenal dengan tulisan-tulisan majas dalam karyanya. Dalam hal ini seorang penulis sastra dalam menyampaikan pikiran dan perasan, baik secara lisan dan tertulis kerap menyampaikannya dengan bahasa majas yang khas.

B.       JENIS-JENIS
A. Macam-macam Majas Penegasan:
  1.  Majas Klimaks : titik paling intens atau tertinggi dari pengalaman atau dari rangkaian acara. Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
  2. Majas Antiklimaks: Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun. Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.
  3. Majas Koreksio: Adalah gaya yang pada awalnya mengklaim sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh: Silakan kembali saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
  4. Majas Asindeton : Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung pada hal yang disebutkan. Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
  5. Majas Interupsi:  adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
  6. Majas Eksklmasio : Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru. Contoh : Wah, biar ku aja yang pergi.
  7. Majas Enumerasio : Adalah beberapa peristiwa yang terjadi kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Bulan bersinar dengan terangnya.
  8. Majas Silepsis dan Zeugma: Adalah gaya mengunakan dua konstruksi yang menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain, hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
  9. Majas Aliterasi: Adalah gaya bahasa berupa perulangan huruf pertama. Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
  10. Majas Anastrof atau Inversi : Adalah gaya bahasa yang dalam kalimat mendahului subejeknya karena lebih baik. Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
  11. Majas Retoris: Pernyataan yang dipergunakan dalam pidato dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
  12. Majas Elipsis: Adalah gaya bahasa yang menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi. Contoh: Kami ke rumah nenek (penghilangan predikat pergi)
B. Macam -macam Majas Perbandingan:
  1. Majas Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku atau Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
  2. Majas Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Contoh: Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
  3. Majas Personifikasi: Kalimat yang menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Contoh: Hujan itu menari-nari di atas genting
  4. Majas Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, ” umpama”, “ibarat”,”bak”, bagai”. Membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya.
  5. Majas Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama. contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
  6. Majas Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
  7. Majas Sinestesia: ungkapan rasa lewat ungkapan rasa indra lainnya.
  8. Majas Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui penggambaran. Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing.
  9. Majas Eufimisme: Kata-kata yang dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau. contoh:Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
  10. Majas Disfemisme: Pengungkapan pernyataan yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
  11. Majas Parabel: Ungkapan pelajaran tetapi disamarkan dalam cerita.
C. Macam-macam Majas Pertentangan
  1. Majas Oksimoron: Gaya bahasa yang mengandung  kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
  2. Majas Antitesis: Gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang membedakan maknanya. Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
  3. Majas Paradoks: Gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
  4. Majas Repetisi: Perulangan kata atau bagian kalimat yang dianggap penting dalam sebuah konteks yang sesuai.
  5. Majas Antitesis: Gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
  6. Majas Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
D. Macam-macam Majas Sindiran
  1. Majas Sinisme: Bersifat pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia  yang lebih kasar dari ironi. Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
  2. Majas Satire: Menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam yang menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
  3. Majas Innuendo: Gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
  4. Majas Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
  5. Majas Sarkasme: Gaya bahasa yang paling kasar,  kadang-kadang merupakan kutukan. Contoh: Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga.